Malam kian gelap, dua insan masih dalam hangatnya berdua didalam mobil sambil bercerita lucu tentang kawannya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua. Kini mereka memasuki area hutan yang lebat dimana jalan penuh kelok di dalamnya sering membuat orang meninggal sesaat. Jalan gelap ini makin membuat mereka berusaha untuk tetap ramai dan tidak menimbulkan suasana yang mendirikan bulu kuduk mereka sendiri. Hutan lebat ini bila siang memang tidak menyeramkan namun selalu saja ada orang yang meninggal disalah satu kelokan jalan. Kebiasaan yang ada disana bisa diketahui dengan adanya abu yang ditaburkan seakan menandakan bahwa baru saja ada kecelakaan disini. Mungkin lubang – lubang jalan ini yang membuat mereka terjatuh dan meninggal. Kata masyarakat setempat arwah mereka selalu bergentayangan. Namun, dua insan ini tidak bisa melewati jalan manapun kecuali jalan ini. Mereka sudah terbiasa dengan jalan ini dan mengetahui pasti lubang jalan disetiap kelokan. Musik jazz yang mengiring mereka berjalan membuat mereka beralih untuk turut berjalan. “Tompi emang keren ya Bang… “, Bagus berkomentar. Ali hanya manggut seraya memfokuskan diri untuk tetap pasti bahwa dia tidak mengenai lubang yang selalu berada ditengah jalan. “Dik, udah nyanyi aja… suara kamu kan bagus untuk didengar… seperti namamu sendiri,” pujinya seperti biasa. Bagus berusaha mengikuti gaya Tompi dan itu membuat Ali tertawa hingga kantuknya yang tadinya mulai menghinggap kini hilang dengan sekejap.
Jalan gelap penuh pohon ini sesaat lagi akan dilewatinya dan mereka akan menemukan jalan terang menuju jembatan yang terkenal di Samarinda. Mereka berusaha untuk tetap ramai guna menghilangkan rasa takut mereka sendiri. Banyaknya penjaja sayur dan warung makan menunjukkan bahwa mereka sudah di akhir garis jalan hutan itu sendiri. Hati tenang mulai menghidupkan suasana. “Akhirnya berlalu juga hutan itu Kak..”.”Iya Dik.. kalo kamu mau tidur, silahkan saja. Abang yang akan mengantar adik dengan selamat,” ujar Ali yang berusaha membuat tenang. Meskipun mereka sering melewati jalan ini, tetapi dunia ketakutan yang diakibatkan oleh suara sumbang masyarakat tetap tidak bisa hilang dari ingatan mereka. Rocker kan juga manusia, gumam Bagus. Dengan seijin Ali, Bagus akhirnya terlelap tidur. Meski hujan kini menghampiri mereka, namun mata Bagus tidak juga bisa terbangun. Ia seakan terbius oleh nyamuk Tse-tse yang memberikan racun tidur padanya. Ali hanya tersenyum melihat Bagus yang tampak indah untuk dilihat. Dengan menggelengkan kepalanya, Ali tersenyum seakan tertawa geli melihat Bagus tidur. Tak pernah Bagus terlelap seperti ini. Ia orang pekerja keras yang selalu tidur malam untuk menyelesaikan pekerjaan. Mungkin liburan ini yang membuat ia harus memanfaatkan waktu sebagai jam tidur sang pangeran.
Jembatan yang menurut masyarakat Indonesia merupakan jembatan terbagus selain di Tenggarong kini telah tampak dimata Ali. Ali hanya menghembuskan nafasnya menunjukkan bahwa dirinya sudah aman karena sudah sampai di sebuah kota yang cukup ramai namun padat dengan penduduk. Belahan pantai di sebelah kanan dan kiri makin tampak indah dimalam hari. Sepi dan senyap seakan ingin berbisik padanya. Perlahan dibukanya kaca mobil untuk Ali bisa menghirup angin yang berhembus. Ali sedikit memejamkan matanya sesaat seakan ingin merasakan nikmatnya. Raut wajah Ali menampakkan puasnya hirupan angin itu. Ali ingin sekali berhenti dipinggir pantai dan melemaskan otot yang cukup lama terlipat karena duduk menyetir yang cukup lama dari Balikpapan. Dua jam sudah mereka lalui untuk sampai di kota ini. Setelah melewati jembatan itu, Ali sempat berhenti setelah lampu merah dilewatinya. Ali berusaha membangunkan Bagus setelah ia melihat jam tangannya yang menunjukkan sudah jam 12 malam. “Dik, bangun! Kita sudah sampai di Samarinda,” ucap Ali dengan lembut seraya tidak ingin mengagetkan Bagus yang terlelap tidur. Seperti biasanya Bagus menggeliat dan berusaha meluruskan otonya yang kaku karena tidur sambil duduk. Matanya yang berbulu lentik dan alis yang tebal berusaha membuka secara perlahan dan sembari tersenyum dilihatnya kota dimana pantai telah tepat dimatanya. Ali berkata,”Selamat malam dunia…???,”. Bagus tersenyum padanya dan kembali melihat pantai yang indah berkilau. Bekas warung makan pinggir jalan yang biasa ramai pada sore hingga malam hari masih tampak kotor dan lembaran koran masih banyak tertinggal dipinggir pantai ini.”Ingin menghirup udara pantai yang indah ini, Dik?,” tanya Ali.
Langkah lemasnya makin mendekatkannya pada pinggir pantai. Tampak sinaran lampu kian berkilau dan air pantai semakin seperti kunang-kunang yang berterbangan. Hitam memang namun karena terkena sinaran malah terlihat bagus dan indah. Ali segera mendekatkan dirinya pada Bagus yang sudah mendekati dudukan pinggir pantai. Bagus memejamkan mata dan berusaha menghirup udara malam ini. Sembari menghirup udara malam itu, Bagus teringat akan kejadian 3 tahun silam di pinggir pantai ini. Tiga tahun lalu mereka berjanji untuk menjaga hubungan rahasia mereka disini. Mereka sudah lama berhubungan sesama jenis dengan penuh kerahasiaan. Mereka tahu hubungan mereka belum bisa diterima di masyarakat namun mereka tetap ingin bersama sampai maut memisahkan mereka. Ali seakan merasakan ingatan Bagus itu, dengan perlahan didekatinya sang kekasih dan diraihnya tangan Bagus. Bagus membuka mata dan tersenyum. Akhirnya mereka berpelukan seakan rindu yang selama ini tidak tertumpah tiap hari karena perbedaan jarak dihabiskan malam itu dipinggir pantai ditempat mereka berikrar janji.
Musik jazz yang tadi mengiringi mereka melalui hutan gelap telah berganti dengan Ben yang dinyanyikan Michael Jackson. Ali tertawa karena Bagus menggantikan syair lagu dengan namanya. Suasana di dalam mobil riuh karena tertawaan mereka berdua. Malam kian menunjukkan bahwa sebentar lagi akan pergi dengan pagi yang menjelang. Setengah jam mereka berusaha mencari motel dimana biasa mereka inap. Mereka menyukai motel ini karena selalu saja ada cerita baru yang ditulis oleh mereka yang inap dikamar itu. Tulisan di diary tamu itu ingin segera mereka baca. Mengetahui kejadian yang membuat mereka tertawa dan terkadang teman mereka sendiri ternyata menempati ruangan tidur yang penuh dengan keajaiban itu.
Jalan pendek yang selalu ada lampu merah dan perempatan membuat mereka merasa diuntungkan karena malam ini sepi dan hanya lampu kuning yang selalu menyala. Lampu kuning ini membuat lancarnya jalan mereka. Jalan ini padat pada siang hari dan terik yang menyengat membuat mereka terkadang kesal dengan kota ini juga. Cukup lama mencari motel dambaan mereka. Tak seperti biasanya ini terjadi. Kerap kali mereka datang, tetapi baru kali ini mereka kesulitan menemukannya. Jalan lancer tidak menunjukkan arti bahwa mereka diberi kemudahan untuk mendapatkan motel yang mereka damba. Kerlip bintang semakin mengecil dan mulai menghilang satu per satu. Malam akan berganti pagi. Orang yang bekerja giat di pasar mulai menunjukkan aktivitasnya.
Setelah lama berputar di jalan yang penuh dengan perempatan itu, pasangan sejenis itu akhirnya menemukan apa yang mereka cari. Jalan yang mereka cari sepertinya sudah dua kali mereka lewati. Hanya saja motel itu tampak gelap dan tak terlihat meskipun sebenarnya dekat dengan lampu merah dimana pertigaan jalan itu tampak aneh. Seakan membuat mereka tersesat. “Perasaan kita sudah lewat sini ya Bang?,” tanya Bagus yang penasaran.”Sepertinya begitu,Dik. Tapi mungkin gak sih kita bisa nyasar gini.Kan kita sering kesini juga.”jawabnya ragu. Dengan suasana hening, mereka berhenti didepan pintu motel. Motel ini penuh dengan tumbuhan yang lebat mulai dari depan gerbang motel hingga sekeliling motel. Hanya tulisan MOTEL UNGU yang terlihat namun karena sudah terlihat tua, tulisan itu kini sedikit kabur.
“Ya udah keluar yuk?”,Ali mengaburkan pandangan Bagus yang menampakkan gelisah di raut wajahnya. Bagus akhirnya menuruti sang abang yang sudah mematikan mesin mobil dan bersiap dengan membuka bagasi mobil. Bagus keluar dan mulai menyisiri wilayah motel dengan matanya yang sudah minus 2. Kacamatanya tampak dilapnya karena tertutup embun yang mendinginkan kacamatanya. Ali mulai menurunkan barang bawaan mereka dari bagasi. Bawaan mereka tidak banyak karena mereka cuma memiliki sedikit waktu untuk liburan. “Bang… kok tumben ya ini motel yang rapi kayak dulu. Perasaan enam bulan yang lalu semua tampak rapi dan begitu indah untuk dipandang. Bayangkan coba, gimana bisa tumbuhan itu gak dirawat. Kan ada tukang rumputnya yang bernama Musa itu. Ingat kan?,”.”Ah kamu… siapa tau Pak Musa sudah dipecat.Terus yang gantiin dia males orangnya”.”Ah… Bang mana mungkin orang rajin kayak Pak Musa itu dipecat. Kalo aku pemilik motel ini gak mungkin akan kupecat dia,Bang”.”Ah.. sudahlah Dik. Lebih baik bantu Abang nih bawa barang. Kamu satu, Abang satu.Biar orang gak curiga dengan kita”. Bagus merenggut. Dengan malas dia mengambil barang bawaannya itu. Sembari berjalan menuju pintu lobi motel itu, Ali memastikan bahwa mobil sudah terkunci. Pintu depan sepi sekali. Sunyi dan senyap, hanya ada dua recepsionist yang menunggu didepan lobi. Mereka akhirnya mendekati meja lobi dan memastikan kamar yang sudah dipesannya telah siap.
Kamar 69 merupakan kamar yang mereka pesan sejak 2 bulan yang lalu. Dan mereka memang sudah berlangganan di motel ini. Tak heran recepsionist sudah mengenal mereka. Ditemani oleh pembawa barang yang dipanggil Pak Dani oleh seorang recepsionist itu, mereka berangkat menuju kamar favorit mereka. Mereka tampak senang dan penuh dengan rasa kangen yang menggebu. Bukan kangen karena asmara yang mereka pendam selama ini, tetapi kangen ingin cepat membaca guest diary yang selalu penuh dengan cerita baru bagi mereka yang menempati kamar itu. Setahu mereka kamar ini selalu menjadi favorit setiap pengunjung di motel ini. Katanya kamar ini penuh dengan aura romantis sehingga pasangan selalu merasa ingin dekat dan setia.
Akhirnya mereka sampai juga dikamar dambaan mereka. Pak Dani berhenti didepan pintu kamar sembari membuka pintu dengan kunci kamar yang dipegangnya. Kuncinya tampak lucu karena tidak seperti kunci biasa. Kunci itu berbentuk simbol cinta dan berwarna merah muda. Anehnya kunci itu harus memasukkan kode pula dengan memencet angka 3914201. Mereka baru menyadari angka itu menunjukkan arti “CINTA” bila diperhatikan lebih dalam. Kesadaran mereka baru muncul setelah yang ketiga kalinya mereka datang ke motel ini. Pintu kamar sudah terbuka dan aura wangi semerbak tercium di hidung mereka. Inilah yang membuat motel ini berbeda dari motel lainnya. Motel ini selalu berbeda harumnya disetiap kamar. Aroma terapi yang digunakannya memang dibuat khusus oleh pemiliknya dan ternyata manjur untuk pengunjung motel ini.
Kamar mandi yang berdekatan dengan pintu masuk kamar berada disebelah kanan. Tempat tidur double bed dilengkapi dengan aksesoris yang semuanya berwarna biru. Lampu patromak unik masih terletak disana. Fasilitas seperti biasa hotel yang ada hanya saja, meskipun berkualitas bintang tiga, suasana dan pengaturan fasilitas kamar seperti bintang lima. Bagus tampak mencari-cari sesuatu namun ia tidak menemukannya. Ali mengetahui apa yang dicarinya namun ia tidak menggubrisnya. Pikirnya biar saja Bagus mencarinya sendiri sementara ia mengurusi tips untuk Pak Dani yang telah membantunya hingga ke kamar mereka. Ali mengucapkan terima kasih kepada Pak Dani dan mengantarnya sampai pintu kamar.
Seraya menutup pintu, Ali hanya menggelengkan kepala melihat Bagus yang tampak seperti detektif yang mencari bukti untuk kasusnya. “Dik…Dik.. kamu ini… kayak apa aja. Abang juga penasaran tapi gak mesti gitu kan. Ntar juga ada”.”Ah Abang ini… Aku kan bener-bener pengin baca tuh diary bang.. bantuin kek..”.”Hahahaha… Adikku sayang… tenang.. nih sudah ditangan Abang. Makanya jangan bengong aja didepan tadi. Tadi recepsionis ngasih didepan waktu kamu celingak celinguk lihat sana sini. Untung kamu gak tau. Kalo kamu tau… mmm… pasti dibaca sambil jalan. Dan Abang mu ini dicuekin”. Dengan menggerutu kesal, Bagus segera mengambilnya. Namun Ali tidak memberinya begitu saja. Ali berlari disertai dengan tawa seakan meledek Bagus. Bagus mengejar dan berusaha mengambil diary itu. Dengan upaya yang kuat, Bagus akhirnya menangkap Ali dan Ali berusaha mengangkat tangannya keatas dengan buku digengaman. Bagus semakin gerang dan berusaha mendapatkannya. Mereka bergulat dan akhirnya jatuh tepat diatas tempat tidur. Ali yang berada diatas Bagus dengan tangan tepat diatas kepala Bagus. Tangannya masih menggenggam diary itu. Diary yang tampak seperti album foto itu terlihat hampir digapai Bagus. Suasana berubah senyap seiring dengan mata mereka yang beradu dan mereka merasakan sesuatu yang mereka harap selama ini. Ciuman mesra Ali meluluhkannya dan dengan pasrah Bagus menerimanya namun tangannya masih berusaha menggapai diary itu. Akhirnya diary digapainya dan Bagus segera berguling dan melepaskan ciuman Ali.Bagus tertawa. Sembari kesal, Ali pergi membersihkan diri dan meninggalkan Bagus yang mulai asyik membaca diary itu.
Rabu, 16 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar